(Ida Ayu Komang)
Wahai engkau yang dibayar sebulan seratus ribu
Terbuat dari apakah hatimu?
Mengapa engkau masih bertahan
Di tengah himpitan kebutuhan
Suaramu selalu terdengar lantang
Walau perut seringkali menahan lapar
Senyummu tak pernah lekang
Di balik seragam yang telah usang
Wahai engkau yang sebulan dibayar seratus ribu
Mengapa engkau tak pernah mengeluh?
Selalu ikhlas meski berpeluh
Tak pernah menikmati dompet penuh
Beban administrasi menguras konsentrasi
Bahkan harus utang sana sini
Namun engkau tetap mengabdi
Demi putra putri negeri
Wahai engkau yang dibayar sebulan seratus ribu
Jeritan hatimu dianggap angin lalu
Namun semangatmu tak pernah layu
Mencerdaskan mereka yang tak mampu
Begitu berat beban di pundakmu
Tatkala kegagalan generasi dituding kesalahanmu
Dianggap engkau tak bermutu
Wahai engkau yang dibayar sebulan seratus ribu
Aku muak dengan kesabaranmu
Aku benci melihat keikhlasanmu
Aku bosan menyaksikan ketulusanmu
Sementara engkau tak sanggup membelikan susu anakmu
Tak berumah tak berharta
Hanya mengayuh sepeda tua
Hingga engkau menutup mata
Wahai engkau yang dibayar sebulan seratus ribu
Orang bilang engkau tonggak bangsa
Pencetak manusia-manusia mulia
Namun engkau diperlakukan tak berharga
Bahkan dianggap tak ada
Pengabdianmu dituntut sempurna
Pendidikanmu diwajibkan sarjana
Pengorbananmu diharapkan tanpa pamrih
Seolah engkau budak dunia edukasi
Wahai engkau yang dibayar sebulan seratus ribu
Sungguh mulia dirimu
Tak terbayar jerih payahmu
Hingga melupakan anak-anakmu
Demi aku anak didikmu
Betapa kurang ajarnya aku
Yang suka memakimu
Padahal kau rela membagi ilmu
Hanya dengan seratus ribu!
Wahai guru terkasih
Engkau tak lelah berdidikasi
Meski hanya dengan sedikit gaji
Gaji yang tidak manusiawi
Mengharapkan sedikit tunjangan sertifikasi
Dengan syarat segunung administrasi
Datang tiga bulan sekali
Itu pun disunat sana sini